Tampilkan postingan dengan label pemerintahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pemerintahan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 September 2015

Jokowi Belajar Menjadi Presiden RI

Foto: Presiden Joko Widodo
“Jok, piye kui presidenmu?,” tanya penjaga warung bubur kacang ijo (burjo) samiasih di dekat kosanku yang mengagetkan lamunanku di warung itu.

Sebelum menjawab dalam hati aku berkata, “kui juga presidenmu nil!”

“Piye apane nil?,” tanya ku kepada dia. Sebenarnya apa maksud pertanyaannya.

“Sekarang rupiah hampir menembus 15.000 per dolarnya. Pye iki? Sekarang semuanya pada naik, apa-apa naik. Ganti wae lah Jokowi ora pecus.” Daniel protes kepadaku. Aku menjadi tumpahan protes Daniel karena Jokowi adalah presiden yang aku pilih pada pemilu tahun 2014 kemarin.

Dengan nada acuh aku menjawab protesnya, “ah boh ben lah kono.”

Namun, sebenarnya aku tak acuh dengan masalah ini. Dalam hati aku berkata, “Ada banyak hal yang membuat ekonomi sekarang menjadi seperti ini; tetapi yang pasti Gubernur Bank Indonesia saat ini, Agus Martowijoyo, tidak berani melakukan kebijakan-kebijakan moneter untuk memulihkan keadaan ekonomi Indonesia. Sementara itu, Presiden Jokowi masih mencari “cara” untuk mengelola negeri yang begitu besar ini. Jokowi masih “belajar” menjadi presiden Indonesia.

Senin, 29 Juni 2015

Pragmatis: Penyakit Bangsa Indonesia

Iluastrasi: pragmatis
Akhir-akhir ini tersiar berita tentang para pejabat yang menggunakan ijazah palsu. Ada yang belum pernah menempuh pendidikan tinggi tetapi memiliki ijazah sarjana, master, bahkan doktor. Ada pula yang menempuh pendidikan tetapi universitas yang menyelenggarakan pendidikan tidak jelas. Modusnya adalah dengan membayar sejumlah beberapa uang ke universitas tersebut untuk memperoleh gelar yang diminta.

Tindakan ini adalah sebuah perilaku yang prakmatis dari seorang yang hanya ingin mendapatkan kekuasaan. Tanpa melakukan hal sebenarnya yang harus mereka lakuan. Mereka membayar begitu banyak. Berjuta-juta rupiah untuk memuluskan dirinya menjadi penguasa dengan memiliki syarat tertentu atau minimal tingkat pendidikan yang harus ditempuh. Sikap yang serakah dan tak sabar. Orang yang ingin memiliki yang mereka inginkan tanpa melalui proses yang harus dilalui.

Selain untuk mendapatkan jabatan, gelar yang didapatkan tersebut ditujukan untuk mendongkrak kehormatan. Mereka yang ingin dipandang atau dihormati secara instan menggunakan gelar palsu tersebut. Yang menjadi pertanyaanku, kenapa orang begitu menginginkan kehormatan meski dengan cara tidak baik yakni dengan menyuap?

Dengan realitas yang seperti ini nampaknya negara kita adalah negara instan.  Negara yang masyarakatnya ingin mendapatkan sesuatu secara cepat tanpa melalui proses. Ke-istanan ini adalah penyakit yang ada dalam negara kita.

Sifat dari pengen cepat tanpa melalui proses ini juga ada masyarakat kita sehari-hari. Contonya: saat lampu merah yang harusnya berhenti malah diterobos. Contoh lain yaitu saat mengantri, masyarakat kita cenderung tidak sabar untuk mengantri. Contoh ekstremnya yakni saat mengurus SIM, kebanyakan tidak melakukan tes mengemudi. Mereka lebih memilih menyuap daripada melakukan tes.

Nampaknya sifat pengen cepet tanpa melalui proses ini telah menjalar disendi kehidupan kita. Sehingga perlu ditekankan kepada masyarakat kita termasuk saya bahwa tindakan pragmatis adalah perilaku yang tidak baik. Sesuatu yang tanpa melalui proses itu tidaklah akan bermanfaat. Pada nantinya sesuatu yang tanpa proses akan menyengsarakan diri kita sendiri.